Malas yang Juara
Asli banget, kaget juga waktu lihat last postingku terakhir tanggal 27 Maret 2010, weks…!! It’s been setahun lalu, lebih malah. Ga nyangka waktu berlalu sangat cepat..
Awalnya sih pas waktu mau nulis and publish di wordpress ini mikirnya ntar ah.. nanti ah.. nyusul deh.. yaaa.. walhasil dah setahun lebih ga ada tulisan yang baru. Padahal banyak sekali hal yang terjadi (lha iya lah setahun gitu lho..).
Ok deh, mulai sekarang Insya Allah kalau ada ide buat nulis, langsung dibuat draftnya, walaupun mindahin ke wordpress nya tetep kapan-kapan..
Game di FB
Haduh..
Ya haduuh.., akhir-akhir ini FB-ku banyak banget icon aneh-aneh. Ada kartun FarmVille (biasanya ugly sapi yang katanya “you found a lonely cow”) duh.. lagian kamana wae atuh yang ngangon-nya, sapinya kok ditinggal-tinggal..
. Kemudian ada dari FishVille, Café World (yang katanya temanku sudah berhasil membuat menu or special recipe)
Rajin banget ya teman-temanku main aplikasi di FB, sampai nge-fans nya dipublish ke wall, untuk ini salut dan kuberikan penghargaan yang tinggi deh (halaah.. hehehe..).
Ga apa-apa sih tapi page news-ku jadinya balaaaa..
Eh tau kan artinya bala? itu dari basa Sunda yang kalau di-translate ke bahasa Indonesia artinya lebih kurang “berserakan” and biasanya merujuk pada sesuatu yang bersifat “rubbish” or unused stuffs.
Kalau bala-bala itu mah lain lagi, itu sejenis makanan khas dari Sukabumi or kota-kota lain di Jawa Barat, biasanya enak tuh kalau makan bala-bala sehabis berenang, apalagi kalau ditambah sambel kacang yang pedesss terus makannya ga satu and.. eh malah ngebahas makanan hihi..
Anyhow, kalau news tentang berternak dan bercocok tanam di FB ini dipublish ke wall, and kalau di buka di facebook mobile or di FB for BB, impactnya jadi menuh-menuhin page and wasting every byte of my data quota
By the way, sorry ya bagi yang membaca tulisan ini and kebetulan fan atau aktivis dari game/aplikasi di FB itu.
HP yang Tertinggal
Just Landed
“Ladies and gentlemen, welcome to Changi International Airport of Singapore. Local time is 10.25 in the morning and the temperature is 31 degree Celsius. For your safety and comfort, we ask that you please remain seated with your seat belt fastened until the Captain turns off the Fasten Seat Belt sign. Please check around your seat for any personal belongings you may have brought onboard with you and please use caution when opening the overhead bins, as heavy articles may have shifted around during the flight. We remind you to please wait until inside the terminal to use any electronic devices. On behalf of Singapore Airlines and the entire crew, I’d like to thank you for joining us on this trip and we are looking forward to seeing you on board again in the near future. Have a nice day!”
Alhamdulillah, sudah sampai.. meskipun hanya 1 jam-an flight dari Jakarta, tapi karena ga ada aktivitas such as futsal or tenis meja, lama kelamaan boring juga nih flight
Berdua dengan teman kami berniat mau ke KL, tapi sengaja transit dulu di Singapore barang setengah hari, katanya sih mau nyari makan siang di Food Republic, di Orchard Rd. (halah, nyari makan saja di Food Republic, padahal di Republic of Indonesia, pilihan makanan pasti lebih banyak, hihihi..)
Resolusi
Di penghujung tahun lalu, pernah ada teman yang bertanya, “Kang resolusi akang di tahun 2010 apa?”
Kaget juga ditanya gitu, ya jawab secara reflex dan seingatnya saja, “Tergantung Mas, kalau untuk CRT yang 17 inch saya biasa pakai 1280 x 960, tapi kalau terasa kekecilan font-nya ya bisa pakai yang 1024 x 768, tapi untuk yang LCD 19 inch mah, saya biasa pakai resolusi 1440 x 900 saja”.
Sang teman ini kaget juga kujawab seperti itu, “Oh, bukan itu maksud saya, cita-cita atau tekad akang di tahun 2010 mau seperti apa?”
Oh.. gitu.. Hihihi…
Ga tau kurang nangkep atau gimana, kok ya bisa resolusi diterapkan sebagai cita-cita atau tekad. Kalau seingatku resolusi atau resolution itu adalah jumlah atau ukuran dalam pixel yang dapat ditampilkan oleh suatu display. Jadi ingatan pertama langsung tertuju pada ukuran display monitor.
Yah.. terus terang ditanya seperti itu membuatku tertegun juga. Mau jadi apa atau mau seperti apa diriku di tahun depan? Padahal di tahun lalu, perasaanku mengatakan masih banyak keinginan yang belum tercapai. Keinginan mempunyai kapal pesiar misalnya, sejak dari tahun sebelumnya teteep saja ga kesampaian, hehe..
Vending Machine
24 January 2010
Tanggal bersejarah dalam hidup karena untuk kesekian kalinya aku kembali buy something from.. Vending Machine.. Hehe..
Sleepy
Setting-nya di Bandara Soekarno-Hatta Intl. Airport, after a long journey from home, my body starting to feel not so delicious.. Hihi..
Ga berat sih.. Hanya gejala normal akibat komplikasi dari kecapaian dan a bit kekenyangan. Gejala ini dinamakan ngantuk.. Halaah..
Gimana ga ngantuk, berangkat dari rumah jam 12 an siang, by taxi to the airport. Di sepanjang jalan slipiii terus, bablas sampe di terminal.
Setelah check in dan lolos dari counter imigrasi, mulai deh serius mencari cara untuk mengatasi rasa slipi ini.
Kopi a.k.a Coffee
Kopi.. Ya kopi.. Pasti bisa mengatasi, at least meringankan gejala slipi ini, even bagiku caffeine sepertinya tidak begitu “ngaruh and ngefek”, minum banyak juga kalau ngantuk mah tetep we tidur. Tapi worth to try lah. Mulailah hunting coffee ini dimulai.
My First Flight
Terjemahan dari judul di atas adalah penerbanganku yang pertama, that’s it, and this story come to the end. Hehehe..
Hihi.. let’s get more serious ok..? Okay-okay..
Kapan ya itu?
Saat itu adalah 3 January 1997, Hmm.., sudah 13 or 14 tahun yang lalu ya? (this year is 2010 btw). Tapi it seems like yesterday saja. Angka itu merupakan tanggal yang bersejarah karena pada tanggal itulah aku mengalami penerbangan dengan menggunakan pesawat terbang yang pertama (lha iya lah, namanya juga terbang pasti menggunakan pesawat terbang, bukan pakai yang lain hehe.. halah dibahas).
Ceritanya sebetulnya berawal dari 3 bulan sebelumnya, jadi tiga bulan sebelum Desember, itu should be September ya? Iya, di bulan itu, atau tepatnya akhir bulan itu aku mendapat kepastian bahwa diriku positif hamil.. eh..hehe.. sorry salah, yang benar adalah aku positif jadi berangkat untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi (Duh.. redundancy deh, ya pastilah melanjutkan ke yang lebih tinggi, tidak mungkin downgrade balik lagi ke level SMA, SMP or even SD, hihihi… hush!).
Setelah lulus dari sebuah sekolah tinggi di kawasan Bandung Selatan (Dayeuh Kolot for more detail) bersama dengan beberapa teman kami diberikan kesempatan untuk melanjutkan sekolah ke salah satu Institute di Australia, tepatnya di Melbourne, atas nama dinas (ceritanya sih dapat beasiswa, hehe.. ehmm..)
Okay, where are we? Oh iya, first flight.
Mencintai Tanpa Harus Memiliki
Ah.. masa sih?
Yang namanya mencintai pastinya ingin untuk memiliki. Betul?
Untuk mengurai statement “mencintai tanpa harus memiliki” kita akan meninjau dari pandangan semantic.. hmm semantic way.. as usual hihihi…
Mencintai dapat diartikan sebagai suatu aktivitas menyayangi, menyimpan perasaan cinta dan membagi rasa sayang (hehe.. suit.. suit.. Ehmm..).
Sedangkan memiliki dapat berarti menjadikan milik, menjadi yang empunya, mempunyai dan berhak atas sesuatu.
So, in a short, pernyataan “mencintai tanpa harus memiliki” dapat diartikan secara lengkap sebagai mencintai dan menyayangi sesuatu (bisa barang atau orang) tetapi sayangnya sesuatu itu bukan merupakan milik kita. Hah? Kok bisa? Ya bisa saja, namanya juga pernak-pernik hidup. Semua yang sekilas tidak bisa tetapi sesungguhnya sangatlah bisa dan mungkin terjadi.
Big Problem
Dalam statement tersebut sebenarnya mengandung suatu masalah yang sangat, sangat dan sekali lagi sangatlah besar, yaitu sesuatu tersebut bukanlah milik kita, bukan milikku, not mine (iya deh.. neither I hehe..).
Jadi sesuatu itu bisa berupa benda mati atau benda hidup.
Benda mati ya misalnya korek api, sepeda motor, mobil pesawat, kapal pesiar atau bahkan pesawat ulang alik.. (duuh kejauhan bangeet deh contohnya.. ga apa-apa ya?). Living things, misalnya hamster, kucing, anjing, kuda, etc.. etc.. and so on so forth.. hihi..
Tapi sebenarnya yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah bukan benda dalam konteks benda mati dan benda hidup seperti itu, tetapi pada sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan dengan segala macam bentuk keindahan dan keunikannya. Sesuatu tersebut dinamakan sebagai… manusia (oooh….).
Sehingga judul di atas seharusnya diartikan sebagai: mencintai manusia tanpa harus memilikinya. Hmm.. I hope it’s clear ya.. (ya deh… hehe..).
Kekasih yang Terlambat…
Hihihi… judulnya agresif and eagering. Sesuatu yang “terlambat” memang merujuk pada hal yang sudah “lewat”, sudah terjadi, it finish, done.. (lho kok sewot? hehe..)
Terlambat dalam keseharian
Seringkali kita mengalami hal ini.., dari yang terlambat yang simple such as terlambat bangun sampai telat masuk sekolah, kantor, tertinggal bis, pesawat bahkan ketinggalan ojek (karena keduluan orang lain), semua karena kita terlambat..
Salah siapa coba terlambat? ga.. ga ada yang perlu dipersalahkan, memang seharusnya harus seperti itu, mesti begitu, sudah ditakdirkan, sudah ada di lauful Mahfudz-nya.. (wise amaat) sudah harus begitu jalannya..
Dalam konteks lain, sering kita terlambat karena tidak mau menunggu, for example karena kelaparan kita “terpaksa” memilih menu mie ayam dan orange juice (dari sirup biasa), padahal in the next 5 minutes keluar pilihan menu baru, ada tanderloin well done, orange juice asli (perezan lho) plus bonus banana split, yah telat deh keburu mesen mie ayam.. hehehe.. (In this case.. saya sih lebih suka yang well done dibanding mie Ayam).
Anyway.. hal yang sama juga terlambat untuk teman or pasangan hidup.. Terlepas dari apakah si dia sudah menjadi pacar sejak setahun yang lalu, dua tahun atau 10 tahun (hah? 10 tahun.. pacaran kok lama bangeeeet.. hihihi..).
Sering kata terlambat itu datang. Maksudnya kumaha?
Pasti lah ngerti.. hehe.. percaya deh yang membaca pasti cerdas dan cermat (halah kayak program TVRI saja), jadi bagi member dan pemerhati cerdas dan cermat, pengertian terlambat ini seperti gelas kristal yang disimpan di atas meja di dalam ruangan yang diterangi lampu dan di siang hari yang terang benderang.. halaaah…
Dalam suatu rumah tangga, kadang hal ini sering terjadi. Saya yakin nearly 90% dari kita pernah mengalami. Bertemu dengan lawan jenis yang merupakan teman atau sahabat kita di masa yang lalu atau bahkan teman dan sahabat baru kadang menjadi source, eh salah.. menjadi sumber (padahal source = sumber yah, ga ada bedanya).. walah jadi ngebahas semantic.. fokus.. fokus.. hehehe..








